Menjaga Warisan, Menyulam Harapan: Seminar Budaya Katab Kebahan Jadi Pusat Inspirasi Generasi Muda
Info Nanga Pinoh- Suasana hangat menyelimuti Balai Betomu, Desa Nanga Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh, Jumat (22/8/2025) pagi. Ratusan peserta dari berbagai kalangan berkumpul dalam Seminar Budaya Katab Kebahan yang mengangkat tema “Merawat Jejak Leluhur, Menganyam Masa Depan.” Acara ini bukan sekadar seminar, tetapi momentum penting untuk meneguhkan kembali identitas budaya Katab Kebahan yang mulai tergerus zaman.
Seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian Festival Budaya Katab Kebahan 2025 yang digelar sejak 20–22 Agustus. Festival yang berlangsung selama tiga hari ini tidak hanya menampilkan seni dan tradisi, tetapi juga mengajak masyarakat untuk kembali mengenali akar budayanya.
Kolaborasi untuk Masa Depan Budaya
Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama erat antara Forum Pembangunan Berkelanjutan (FPB) Melawi, Ikatan Warga Katab Kebahan (IWKK), WWF, serta Pasak-Pasak Katab Kebahan. Dengan semangat gotong royong, mereka ingin memastikan warisan budaya tetap terjaga dan bisa diwariskan kepada generasi muda.
Dalam sambutannya, Eko Susilo, perwakilan FPB Melawi, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Melalui seminar kebudayaan ini kami berharap dapat memberikan masukan agar budaya Katab Kebahan tetap eksis dalam lanskap Katab Kebahan. Kami juga mendorong pengakuan masyarakat hukum adat, seperti Pasak Kebebu dan Pasak Birapati yang kini sudah dalam proses pengakuan resmi dari Pemerintah Daerah Melawi,” ujar Eko.
Ia juga mengingatkan bahwa masih banyak elemen budaya Katab Kebahan yang belum terekspos. Karena itu, festival ini menjadi ruang penting untuk menampilkan kembali tradisi yang sempat terlupakan.

Baca Juga : Festival Katab Kebahan, Panggung Merawat Warisan Dayak di Melawi
Dukungan Pemerintah Desa
Apresiasi tinggi juga datang dari Plt. Kepala Desa Nanga Kebebu, Siyondi, SP. Menurutnya, seminar ini bukan hanya bentuk penghormatan pada leluhur, tetapi juga inspirasi bagi generasi penerus.
“Pemerintah desa sangat berbahagia karena seminar budaya ini bisa terlaksana dengan baik. Semoga kegiatan positif seperti ini berlanjut di desa-desa lain sehingga semakin banyak masyarakat yang terlibat menjaga budaya,” katanya.
Pemaparan Akademisi: Merawat Identitas, Menyulam Harapan
Seminar menghadirkan narasumber utama, Prof. Dr. H. Zainuddin, MA dari IAIN Pontianak, yang memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya merawat jejak leluhur sebagai fondasi pembangunan masa depan.
Menurutnya, kebudayaan adalah refleksi dari pikiran, perasaan, dan tindakan manusia yang mencakup bahasa, sistem sosial, pengetahuan, hingga kesenian.
“Seminar ini wujud nyata menganyam masa depan dengan merawat masa lalu. Festival budaya seperti ini adalah sarana efektif untuk mengekspresikan identitas, sekaligus meneguhkan rasa bangga terhadap kebudayaan sendiri,” jelas Prof. Zainuddin.
Ia menekankan bahwa generasi muda perlu diberikan ruang untuk tidak hanya mengenal budaya leluhur, tetapi juga mengembangkannya agar relevan dengan zaman.
Antusiasme Peserta: Dari Akademisi Hingga Guru Sekolah
Seminar ini dihadiri 32 perwakilan masyarakat yang terdiri dari IWKK, 11 pasak-pasak, perangkat desa, tokoh adat, serta guru-guru SD dan SMP di sekitar wilayah Kebebu. Kehadiran para guru menjadi poin penting, karena merekalah yang nantinya akan meneruskan semangat pelestarian budaya di ruang kelas.
Bagi masyarakat, kegiatan ini menjadi ajang bertukar gagasan sekaligus momen kebersamaan. Diskusi berjalan dinamis dengan dipandu Bang Yusli, tokoh budaya setempat yang piawai membangkitkan semangat peserta.
Festival Tiga Hari: Panggung Tradisi Katab Kebahan
Selain seminar, Festival Budaya Katab Kebahan menampilkan berbagai pertunjukan seni, tarian tradisional, musik khas, hingga pameran kerajinan tangan. Banyak anak muda yang terlibat langsung, membuktikan bahwa budaya bisa tetap hidup jika diwariskan dengan cara kreatif dan menyenangkan.
Eko Susilo menegaskan bahwa ke depan, FPB bersama mitra akan terus memperluas ruang ekspresi budaya Katab Kebahan. “Ini bukan akhir, tapi langkah awal menuju pengakuan dan keberlanjutan budaya kita,” katanya.
Menyulam Masa Depan Melalui Budaya
Seminar dan festival ini telah memberikan satu pesan kuat: budaya bukan sekadar peninggalan, melainkan arah untuk melangkah ke masa depan. Dengan merawat jejak leluhur, masyarakat Katab Kebahan optimistis dapat menganyam masa depan yang lebih berwarna, berdaya, dan berakar pada kearifan lokal.
















