Takeyuki Oya Siap Benahi Liga Indonesia dengan Pengalaman dari J-League
Info Nanga Pinoh – PT Liga Indonesia Baru (LIB) menunjuk Takeyuki Oya, mantan petinggi J-League, sebagai General Manager Kompetisi dan Operasional dalam upaya besar membenahi Liga Indonesia. Pria asal Jepang ini membawa pengalaman 16 tahun di manajemen Liga Jepang, salah satu liga paling profesional di Asia.

Penunjukan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan peringkat Liga 1 Indonesia yang kini hanya berada di posisi ke-25 AFC Club Competitions Ranking, tertinggal dari Kamboja (peringkat 23), Malaysia (11), bahkan jauh dari Thailand (7).
Komitmen Jangka Panjang, Target 2027
Oya menyebut telah berdiskusi dengan Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengenai kerangka waktu reformasi liga hingga 2027. Ia belum membeberkan rincian rencana, namun menegaskan perlunya peningkatan performa klub-klub Indonesia di kancah Asia.
“Setidaknya satu klub Indonesia bisa lolos ke playoff AFC Champions League Elite, dan menjadi finalis di ACL 2,” ujarnya, Senin (7/7/2025), di Jakarta.
Klub yang paling dijagokan Oya adalah Persib Bandung, juara Liga 1 dua musim beruntun. Selain kuat secara teknis, Persib juga memiliki basis suporter besar yang menjadi modal penting.
Klub Potensial Lain: Persija & Bali United
Selain Persib, Persija Jakarta dan Bali United juga dinilai Oya berpotensi bersaing di Asia Tenggara. Persija mencatat rekor rata-rata penonton tertinggi di Liga 1 musim lalu, yaitu 15.414 penonton per pertandingan, hanya kalah dari Buriram United di Thai League.
“Fanatisme di Indonesia luar biasa. Ini modal penting untuk membangun liga yang profesional dan berkelanjutan,” kata Oya.
Kenapa Pilih Indonesia?
Meski menerima beberapa tawaran dari negara lain, Oya akhirnya memilih Indonesia karena tingginya antusiasme masyarakat dan komitmen pemerintah.
“Saya lihat pemerintah Indonesia sangat serius. Presiden Prabowo Subianto bahkan menjadi Dewan Kehormatan PSSI. Ini bukti nyata dukungan negara,” jelasnya.
Erick Thohir juga meminta publik bersabar. Menurutnya, perubahan besar memerlukan proses.
“Jangan buru-buru menuntut hasil. Baru sebulan kerja, tidak bisa langsung kelihatan. Ini marathon, bukan sprint,” tegas Erick.
















